LUWU — Aksi unjuk rasa mahasiswa bersama sejumlah organisasi masyarakat (ormas) yang tergabung dalam Aliansi Wija To Luwu berlangsung di Kecamatan Larompong Selatan, tepat di wilayah perbatasan Kabupaten Luwu dan Kabupaten Wajo, Jumat (13/1/2026).
Dalam aksi tersebut, massa melakukan penutupan akses jalan penghubung dua kabupaten dengan cara membakar ban serta memalang jalan menggunakan kendaraan, sehingga arus lalu lintas di jalur strategis tersebut sempat terhenti.
Di atas sebuah truk kontainer, massa aksi secara bergantian menyampaikan orasi. Mereka mendesak Presiden RI Prabowo Subianto untuk mencabut moratorium pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) serta segera merealisasikan pemekaran Luwu Raya, termasuk pembentukan DOB Kabupaten Luwu Tengah dan DOB Provinsi Luwu Raya.
“Moratorium DOB sudah terlalu lama menutup harapan masyarakat Luwu Raya. Kami menuntut keadilan pembangunan dan pemerataan pelayanan publik,” teriak salah satu orator dari atas truk kontainer.
Aksi kemudian mencapai puncaknya ketika massa, dibantu ibu-ibu dan warga setempat, secara simbolik menutup dan memutus akses Jalan Poros Trans Sulawesi di perbatasan Wajo-Luwu dengan cara mendirikan pondasi batu melintang di badan jalan.
Terpantau di lokasi, mahasiswa dan ibu-ibu warga saling bahu-membahu mengangkat pasir, batu, dan air, lalu menyusunnya menjadi pasangan batu pondasi tepat di tengah jalan poros.
Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes sekaligus simbol keteguhan tuntutan pemekaran Luwu Raya.
Salah seorang peserta aksi, Rizal, mengungkapkan bahwa tindakan tersebut merupakan bentuk kekecewaan mendalam masyarakat Luwu Raya terhadap pemerintah pusat.
“Kami tidak anarkis, ini aksi simbolik. Pondasi ini melambangkan dasar perjuangan kami. Kalau daerah lain bisa dimekarkan, kenapa Luwu Raya terus ditunda?” tegasnya.
Sementara itu, seorang ibu rumah tangga yang ikut membantu pemasangan pondasi, Nurhayati, mengaku tergerak ikut turun ke jalan karena dampak langsung yang dirasakan masyarakat.
“Kami ibu-ibu ikut karena kami yang merasakan susahnya pelayanan, jauh ke mana-mana. Pemekaran ini harapan kami supaya anak-anak kami hidup lebih baik,” ujarnya.
Aksi berlangsung dengan penjagaan aparat keamanan dan situasi tetap terkendali.
Setelah beberapa waktu, massa menyatakan akan terus mengawal perjuangan pemekaran DOB Provinsi Luwu Raya hingga tuntutan mereka mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat. (*)













Komentar